“Glontang-glontang-glontang”, suara mesin pencernaan Awan berjalan.
Saat itu pukul 22.00, seluruh santri bergegas tidur. Tapi lain dengan Awan, dia kesakitan karena lapar. Salahnya sendiri belum makan saat makan malam.
“Aduuuh! nggak bisa diajak kompromi nih perutku.Aku harus makan, kalo nggak, bisa mati aku.”
Awan memutar otak, dia berpikir bagaimana dia harus bisa mendapatkan makan pada saat waktu dan tempat yang tak tepat ini.
“Jam segini nggak mungkin dapur buka. Apa aku kabur aja ya untuk cari makan?”
Dengan terpaksa Awan memutuskan untuk kabur cari makan, walaupun itu melanggar peraturan pondok. bagaimanapun Awan harus memanjat pagar untuk bisa keluar.
“Brik-brak-brek-bruk-brok,”suara Awan terjatuh dari atas pagar.
“Suara apa itu?” teriak seseorang heran.
“kuciiiiiiing (seperti suara kucing),” sahut Awan.
“Waduh patah semua ini tulangku,”lirih Awan berkata.
Dengan motto “harus makan” maka Awan menguatkan dirinya sampai ia menemukan warung. Baca entri selengkapnya »
